Ruteng by night: cold air, Flores coffee, and a valley of city lights
Ruteng dingin begitu matahari tenggelam. Lampu kota menyebar di lembah seperti manik-manik, dan saya berjalan kaki mencari kopi karena motor sudah cukup capek hari itu.
Pak Yos menyangrai kopinya sendiri di belakang warung. Saya memesan secangkir, lalu secangkir lagi, dan menutup malam dengan nasi hangat dan ikan kuah asam. Di meja sebelah, tiga orang bercerita tentang panen kopi tahun ini dengan nada yang campur aduk.
Jadwal
Ruteng tertunda sehari dari rencana, akibat feri. Tidak masalah, kopi di sini layak ditunggu.